Apakah Gempa Besar Bisa Picu Gempa Megathrust dan Sesar Lain?

Jakarta, Lycos Gears Indonesia

Gempa

berkekuatan M7,8 yang mengguncang Mindanao, Filipina pada Senin (8/6) memunculkan pertanyaan apakah guncangan besar di satu titik dapat menjadi pemicu gempa bagi zona

megathrust

atau sesar lain di sekitarnya.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menyebut belum ada tanda dampak tersebut dari gempa Mindanao M7,8. Ia menjelaskan bahwa kemampuan sebuah gempa untuk memicu sumber gempa lain sangat bergantung pada kondisi tektonik di lokasi tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Jika dekat sumber gempa M7,8 ada sumber gempa lain yang sudah matang dengan akumulasi medan tegangan maksimum ya bisa karena sumber gempa nya sudah “mateng” tegangannya,” katanya kepada

Lycos GearsIndonesia.com

, Senin (8/6).

Sebaliknya, jika akumulasi tegangan belum tercapai, peluangnya sangat kecil. Daryono menyebut ada dua mekanisme picuan yang dikenal dalam ilmu kebumian, yakni picuan statik dan picuan dinamik.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengonfirmasi bahwa skenario picuan antar-zona memang bisa terjadi, namun sulit diprediksi.

“Bisa saja memicu aktivitas zona megathrust di sekitarnya, namun kapan dan zona mana yang akan aktif, kita belum tahu,” ujarnya.

Ia menunjuk peristiwa 2004 sebagai bukti empiris yang pernah terjadi di kawasan ini, yakni Gempa Aceh berkekuatan M9,3 yang memicu gempa besar di Nias dengan magnitudo M8,7 tak lama setelahnya.

Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut fenomena semacam ini sebagai dynamic stress transfer atau pemindahan tegangan dinamik.

Dalam catatannya, USGS menyebut beberapa peristiwa historis yang mendemonstrasikan efek ini, seperti gempa M7,3 Landers 1992, gempa M7,9 Denali 2002, serta gempa M9,1 Sumatra 2004 yang memicu gempa susulan dari ujung utara Sumatra hingga selatan Myanmar dan menjangkau area patahan sepanjang sekitar 1.300 kilometer.

Namun USGS juga menetapkan batasan teknis penting. Jika gempa yang terpicu berada dalam jarak 2-3 kali panjang patahan dari pusat gempa utama, secara ilmiah ia diklasifikasikan sebagai gempa susulan atau aftershock, bukan peristiwa terpicu (triggered event).

Sebagai referensi skala, patahan gempa M7 memiliki panjang sekitar 40-60 kilometer, sementara patahan gempa M9,1 Sumatra mencapai ratusan kilometer.

Wijayanto menambahkan bahwa secara umum gempa pemicu yang efektif membutuhkan magnitudo sangat besar, di atas M9, dengan kedalaman dangkal kurang dari 30 kilometer.

“Ada kemungkinan juga (pada gempa yang lebih kecil), namun kecil,” katanya.

(lom/lom)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Lycos Gears]

Baca lagi: Ramai-ramai Bantah Korupsi MBG Usai ‘Nyanyian’ Sony Sonjaya

Baca lagi: Anthropic Rilis Model Baru Claude Fable 5, Secanggih Apa?

Baca lagi: Trump: Iran Hanya Perlu Tanda Tangan Perjanjian

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: