
Jakarta, Lycos Gears Indonesia
—
Meta
dituding melancarkan program rahasia yang memerintahkan ratusan pekerja kontrak untuk menyamar sebagai remaja. Mereka ditugaskan membanjiri model
kecerdasan buatan
(AI) milik para pesaing dengan instruksi (prompt) yang nyeleneh, dari topik bunuh diri hingga kanibalisme.
Proyek rahasia yang dinamai ‘Cannes’ ini dikelola oleh perusahaan kontraktor Meta bernama Covalen. Mereka menyasar chatbot populer seperti ChatGPT, Gemini, dan Character.AI menggunakan akun-akun palsu berkedok pengguna di bawah 18 tahun.
Mengutip laporan
Wired
, proyek ini bertujuan untuk menguji ketahanan (
stress test
) model AI tersebut. Para kontraktor diminta memaksa chatbot kompetitor memberikan jawaban yang melanggar batas aman (
guard rails
) mereka, tanpa sepengetahuan perusahaan AI yang bersangkutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan laporan tersebut, dari sekitar 38 ribu prompt yang digunakan dalam satu sesi pengujian, ratusan di antaranya berfokus pada topik bunuh diri dan menyakiti diri sendiri, ratusan lainnya membahas gangguan makan, dan setidaknya 239 kalimat bertema seks, yang semuanya ditulis dari sudut pandang seorang anak atau remaja.
Beberapa contoh tersebut di antaranya, sebuah prompt yang menggambarkan anak kelas 5 SD yang ditodong pistol ke dalam mulutnya oleh teman sekelasnya. Kemudian, ada juga cerita tentang anak perempuan yang coba menyembunyikan penyakit bulimia dari orang tuanya.
Contoh lainnya, ada pertanyaan soal apakah normal jika seseorang berfantasi ingin memakan anak tetangganya. Selain itu, ada juga akun yang menyamar sebagai anak SMA dan bertanya di mana dapat membeli kokain.
Mereka juga mengirimkan gambar-gambar sensitif seperti obat-obatan, tali tiang gantung, pisau, hingga diagram medis prosedur ginekologi.
Pada sesi pengujian lainnya, ada lebih dari 45 ribu prompt serupa yang dikirimkan. Para kontraktor mencatat setiap respons dari chatbot tersebut secara mendetail ke dalam spreadsheet.
Namun demikian, belum jelas apa yang sebenarnya dilakukan Meta dengan tumpukan data tersebut. Dokumen internal Covalen hanya menyebut proyek ini sebagai “tolok ukur keamanan AI yang komprehensif” untuk menghasilkan “kumpulan data krusial demi kepatuhan dan perbandingan model”.
Bikin pekerja trauma
Kasus ini menambah panjang daftar bagaimana Meta melimpahkan pekerjaan di balik layar yang traumatis kepada pihak ketiga dengan dalih ‘keamanan’.
Sebelumnya pada 2020, Meta sempat merampungkan gugatan hukum dengan para moderator konten Facebook yang mengaku trauma setelah dipaksa menonton video pembunuhan, penyiksaan, dan pelecehan. Belum lagi kasus pekerja kontrak yang mengeluh dipaksa memeriksa rekaman sensitif dari kacamata pintar Ray-Ban AI Meta.
Para pekerja yang ditugaskan membuat prompt mengerikan untuk AI pesaing ini mengaku trauma.
“Selama kerja di sini, saya sudah melihat banyak hal yang harusnya tidak perlu saya lihat,” kata salah seorang kontraktor, melansir
Futurism
, Sabtu (4/7).
“Semua orang yang saya kenal di proyek ini benar-benar syok dengan teks yang disuruh untuk diuji. Kami bahkan berpikir, ‘kita beneran tidak akan kena masalah kalau melakukan hal ini?'” ujar dia.
Persaingan tak sehat
Merespons hal ini, Meta menjelaskan bahwa pengujian tersebut merupakan praktik standar industri untuk mengukur tingkat keamanan model AI.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh Rumman Chowdhury, CEO Humane Intelligence PBC, sebuah organisasi nirlaba pengembangan AI yang bertanggung jawab. Menurut dia, Meta justru sudah keluar batas norma.
“Membuat proyek skala besar selama berbulan-bulan yang sengaja dirancang untuk merusak aturan sistem secara sistematis, lewat akun palsu yang menyamar sebagai anak-anak, itu sudah di luar batas apa yang disebut evaluasi,” kata Chowdhury.
Ia juga menyoroti tindakan Meta yang merahasiakan proyek ini dari pesaingnya dan tidak membagikan hasilnya ke publik. Menurut dia, ini merupakan contoh nyata zona abu-abu dalam tata kelola teknologi, ketika isu keamanan sengaja dijadikan kedok untuk menutupi praktik persaingan usaha yang tidak sehat.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Andi Widjajanto Bantah Terlibat Demo: Saya Sedang Makan di Bundaran HI
Baca lagi: Hello world!
Baca lagi: Tawaran Ditarik, Rencana Harry Menginap di Buckingham Palace Batal




8 Responses
Sebuah panduan yang sangat memangkas durasi riset internal berkat konseptualisasinya yang padat dan terarah https://www.lib.cet.ac.il/pages/subx.asp?item=8312&page=1&type=site&rel=1
Pembahasannya jelas dan tidak bertele-tele sehingga nyaman dibaca sampai selesai. Saya juga membandingkannya dengan https://kldp.org/comment/257228 dan keduanya sama-sama bermanfaat.
Terima kasih sudah membagikan artikel yang informatif seperti ini. Buat yang ingin melihat sudut pandang lain, saya juga menemukan https://kldp.org/comment/254982 yang cukup menarik.
Asli, awalnya bingung tapi abis baca ini jadi langsung connect. Eh sekadar sharing, di https://kldp.org/comment/351888 juga ada ulasan yang se-tipe dan seru buat nambah referensi.
Tulisan yang sangat mencerahkan arah kebijakan makro dan memberikan dampak nyata pada efisiensi alokasi sumber dayahttp://www.geocities.ws/ladyjiraff/authors.html
Setuju banget sama poin-poin di artikel ini, saya jadi makin ngerti sekarang. Oh iya, buat temen-temen yang butuh bacaan sejenis, http://nchu-smart-campus.nchu.edu.tw/2017/09/app_21.html juga bahas hal yang sama lho.
Artikel ini memberikan sudut pandang baru yang cukup menarik. Saya juga memperluas bacaan melalui https://esparragosvegasdelgenil.es.tl/HISTORIA-ESP%C1RRAGO-EN-LA-VEGA-.htm.
Artikel seperti ini membuat pembaca mendapatkan manfaat tanpa harus mencari terlalu banyak sumber. Saya juga membaca tambahan informasi dari [https://www.techmeme.com/080926/p22](https://www.techmeme.com/080926/p22).