
Jakarta, Lycos Gears Indonesia
—
Kebakaran melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
Jatiwaringin
, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang sejak Selasa siang, 30 Juni 2026. Proses pemadaman memakan waktu lama, bahkan setelah hampir seminggu api belum sepenuhnya padam.
Memasuki hari keenam pada Minggu (5/7),
titik api
yang masih tersisa diperkirakan sekitar 3,6 persen atau 1,68 hektare dari total 18 hektare area yang sebelumnya terbakar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang menduga, cuaca panas ekstrem menjadi penyebab kebakaran yang melanda TPA Jatiwaringin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan suhu panas yang tinggi diduga memicu gas metana yang terbentuk dari timbunan sampah selama bertahun-tahun hingga akhirnya memunculkan api.
“Tumpukan sampah itu yang sudah bertahun-tahun mengandung gas metana. Apabila sudah panas yang ekstrem, maka gas itu bisa menjadi api,” ujar Taufik di lokasi.
Kasus kebakaran di TPA saat musim kemarau bukan kali ini saja terjadi. Pada 2023, rentetan kebakaran juga melanda tiga TPA, yakni di TPA Sarimukti di Bandung Barat, TPA Putri Cempo Mojosongo di Solo, dan TPA Jatibarang di Semarang.
Sama seperti sekarang, faktor cuaca dan musim kemarau serta El Nino dituding jadi salah satu pemicu kebakaran saat itu.
Benarkah cuaca panas satu-satunya pemicu?
Dini Trisyanti, Direktur Sustainable Waste Indonesia, mengatakan bahwa cuaca memang memiliki peran dalam kasus kebakaran TPA. Namun, terlepas dari itu semua, ia menduga ada kesalahan dalam operasional TPA sehingga mengakibatkan kebakaran.
“Kalau menurut saya betul ada faktor cuaca, tapi betul juga karena memang secara operasional TPA tidak dioperasionalkan dengan betul sesuai aturan,” ungkap Dini saat itu.
Cuaca panas memang lebih rentan menimbulkan percikan api di TPA. Di sisi lain, timbunan sampah organik bisa menghasilkan gas metan yang mudah terbakar.
Kedua hal ini jika dikombinasikan dapat memicu kebakaran. Ditambah lagi, ketika cuaca panas dan musim kemarau, air untuk memadamkan api sulit dijangkau.
“Misal ini api kecil, terus cuaca panas kan, mungkin sumber air lebih susah ya carinya, kemudian sumber apinya jadi besar, dia memantik gas metan di dalam. Timbunan sampah kan tinggi,” jelasnya.
Dugaan kesalahan operasional
Alih-alih menyalahkan cuaca panas, Dini justru melihat ada dugaan kesalahan operasional TPA yang membuat kebakaran ini semakin sulit dipadamkan. Menurut dia, cuaca hanya faktor kecil dari masalah ini.
Pasalnya, setiap tahun Indonesia mengalami musim kemarau dan kebakaran di TPA sebetulnya bukan barang baru.
“Hampir setiap [tahun] musim panas, dari dulu-dulu juga memang sering ada kebakaran di TPA, jadi itu sebenarnya bukan suatu hal yang baru,” kata Dini.
Menurut Dini terlepas dari faktor cuaca, rentetan kebakaran TPA itu potensi melanggar aturan. Sebab, ia menduga TPA-TPA itu dioperasikan dengan sistem pembuangan terbuka atau open dumping, yakni dibiarkan begitu saja tanpa ada perlakuan apa pun seperti lapisan penutup tanah.
Aturan yang Dini maksud adalah Pasal 44 UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Regulasi tersebut mengamanatkan pemerintah daerah menutup TPA yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama lima tahun sejak UU tersebut berlaku.
Ia mengatakan salah satu cara untuk tidak lagi menggunakan sistem open dumping adalah dengan melapisi sampah-sampah tersebut dengan lapisan tanah.
Menurut Dini dengan lapisan penutup tanah seharusnya rentetan kebakaran itu tidak akan terjadi secara masif. Ia menganalogikan sistem pembuangan tertutup akan membuat TPA seperti kue lapis, karena setiap ada sampah yang dibuang akan dilapisi tanah di bagian atasnya.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Lycos Gears]
Baca lagi: FOTO: Janice Tjen Buat Kejutan Lolos ke Babak 2 Wimbledon 2026
Baca lagi: Istana Terapkan Protokol Khusus saat Raja Charles Temui Harry
Baca lagi: P2G Kecam Korupsi Seragam Sekolah yang Seret Bupati Langkat




14 Responses
Tulisan ini memotong jalur birokrasi berpikir kita menjadi langkah-langkah ringkas yang siap saji https://www.kufirst.center.ku.ac.th/foreseeing-kus-global-potential-through-the-reinventing-university-program-2-3/ jadi mudah di pahami saat di baca
Gila, ini sih yang dari kemaren saya cari-cari. Penulisannya asik! Kalau butuh sudut pandang lain, bisa juga baca-baca di https://www.siteprice.org/competitors/naijablast.com ya guys.
Sangat mencerahkan dan mudah dipahami alurnya. Sebagai pelengkap materi, tautan http://www.invelos.com/UserProfile.aspx?alias=epicureannycom%C2%A0 ini juga punya informasi yang sejalan dan patut buat dibaca.
Penulisan artikelnya sangat runut sehingga mudah dipahami. Saya juga ingin berbagi tautan https://videos.muvizu.com/Profile/epicureannycom/Latest/ di sana ada tulisan serupa yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Apresiasi saya untuk penulis karena telah menyajikan informasi yang sangat berharga. Saya turut melampirkan https://www.buzzbii.com/epicureannycom?lang=russian yang kebetulan memiliki muatan informasi sejenis untuk memperkaya literatur kita.
Ulasan yang komprehensif dan mudah dimengerti oleh kalangan umum. Sebagai bentuk kontribusi, saya menyarankan https://pxhere.com/fi/photographer/4505044 bagi rekan-rekan yang ingin memperdalam studi mengenai topik bahasan ini.
Informatif parah! Akhirnya paham juga sama materi ini. Sekadar nambahin aja, di https://aroundsuannan.ssru.ac.th/index.php?action=profile;u=3149565;area=showposts juga ada ulasan yang gak kalah seru soal isu ini.
Makasih min infonya, ngebantu banget buat tugas saya. Kebetulan sumber lain yang saya pakai dari http://iop.chez.com/u.php?action=show&uid=14641 juga mengulas hal serupa.
Tulisan ini bertindak sebagai panduan navigasi strategis yang membersihkan distorsi informasi di tingkat eksekutif https://www.lib.cet.ac.il/pages/subx.asp?item=8312&type=site&rel=1
Artikel ini memiliki karakteristik sebagai dokumen literasi mendalam yang mampu menaikkan standar daya kritis pembacanya https://www.lib.cet.ac.il/Pages/sub.asp?item=5609&page=2&rel=1
Sebuah ulasan solutif yang berorientasi pada hasil nyata dengan tetap mematuhi regulasi dan prinsip-prinsip ilmiah https://magic.ly/kuatkuat/Tren-Transportasi-Ramah-Lingkungan
Penulis menata taksonomi penjelasan dengan sangat rapi, menghindarkan pembaca dari ambiguitas penafsiran materi asli. https://www.relocatecanada.baremetal.com/edmonton/church.html
Tulisan yang sangat informatif dan terstruktur dengan baik. Bagi rekan-rekan yang butuh literatur tambahan terkait bahasan ini, bisa juga mengecek https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=290038 yaa.
Bahasanya mudah dimengerti banget buat pemula kayak saya. Kemaren sempet nyari-nyari juga dan nemu https://kldp.org/files/bookmarks_0.html yang bahasannya sejalur sama ini.